Rifastar

Rifastar

Komposisi:
Setiap kaplet salut selaput memiliki komposisi :
Rifampicin 150 mg,
Isoniazid 75 mg
Pyrazinamide 400 mg
Ethambuthol 275 mg
Farmakologi:
Rifampicin merupakan antibiotik
Isoniazid, Pyrazinamide dan Ethambuthol merupakan agen khusus tuberkulosis
Rifampicin dan Isoniazid memiliki efek bakterisidal,Ethambuthol berefek bakteriostatik terhadap Mycobacterium tuberculosis sedangkan Pyrazinamide sampai saat ini belum diketahui dengan pasti mekanisme kerjanya.

Cara Kerja:
Rifampicin bekerja dengan menghambat DNA bakteri tanpa mempengaruhi enzim-enzim lain dalam tubuh (sebagai antibiotika)
Isoniazid dan Pyrazinamide merupakan agen khusus tuberkulose
Isoniazid memilki kemampuan kuat dalam menghambat pertumbuhan populasi Mycobacterium tuberculosis dengan cara menghambat pembentukan asam mycolic dimana asam mycolic adalah komponen pembentuk dinding sel bakteri
Rifampicin dan Isoniazid memiliki efek bakterisidal
Pyrazinamide sampai saat ini belum diketahui dengan pasti mekanisme kerjanya.

Indikasi:
Anti TB
Infeksi yang disebabkan oleh mikobakterial

Dosis:
Dosis tetap menggunakan saran dari dokter
Total dosis yang dianjurkan :
Rifampicin: 5 (4-6) mg/kg BB/hari
Pyrazinamide: 25 (20-30) mg/kg BB/hari
Ethambutol: 15 (10-20) mg/kg BB/hari

Setiap Rifastar� telah mengandung komponen tersebut diatas, maka dianjurkan dosis pemberiannya adalah 1 tablet/15 kg BB

Berat badan (kg)Dosis/hariKeterangan
>705 haridiberikan sekali sehari (selama 2 bulan pertama pengobatan)
55-704 haridiberikan sekali sehari (selama 2 bulan pertama pengobatan)
38-543 haridiberikan sekali sehari (selama 2 bulan pertama pengobatan)
30-372 haridiberikan sekali sehari (selama 2 bulan pertama pengobatan)

Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal/ hati :

Rifampicin terkonsentrasi di plasma hampir sama dengan pasien dengan usia muda

Untuk pasien dengan fungsi hati normal tidak boleh kurang dari < 600mg per hari.

Pasien dengan gangguan fungsi hati dosis dapat disesuaikan sesuai petunjukk dokter

Rifampicin tidak perlu penyesuaian dosis pada saat dialisis

Isoniazid: untuk pasien geriatri, ganguan fungsi hati atau ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

Pyrazinamide : tidak diperlukan penyesuaian dosis

Etahmbuthol : pasien geriatri tidak perlu penyesuaian dosis, namun bila ada ganguan ginjal maka dosis harus disesuaikan tergantung tingkat keparahan ginjalnya

Kemasan:
Box 30′s

Produksi:
PT Indofarma Tbk.

You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Rifastar”

  1. obat kuat says:

    Studi terbaru menemukan bahwa Viagra dapat meminimalkan masalah jantung yang banyak dialami anak dan pra-remaja.

    Sejak Viagra (sildenafil) telah disetujui sebagai obat disfungsi ereksi (impotensi) pada tahun 1998, para peneliti telah mengidentifikasi beberapa manfaat lain yang menguntungkan dari ‘pil biru kecil’ ini.

    Menurut penelitian sebelumnya, Viagra dapat membantu mengatasi hipertensi paru, masalah jantung pada bayi yang sangat prematur, penurunan sirkulasi pada pasien dengan gangrene (matinya jaringan pada bagian tubuh), bahkan membantu mengobati kanker prostat.

    Sekarang studi terbaru menemukan bahwa Viagra memiliki potensi lain, yaitu untuk membantu anak usia muda yang menderita degenerasi jantung karena Duchenne muscular dystrophy.

    Duchenne muscular dystrophy (DMD) adalah penyakit degeneratif otot yang disebabkan oleh masalah gen yang membuat protein dystrophin. Hal ini menyebabkan kelemahan otot yang progresif, sehingga bisa membuat anak usia 10 tahun sudah harus duduk di kursi roda.

    Kondisi ini sering menyebabkan kematian sebelum pasien berusia 30 tahun dan biasanya mempengaruhi anak laki-laki. Pada stadium lanjut, degenerasi diafragma dan jantung bisa menyebabkan komplikasi pernapasan yang berpotensi fatal dan gagal jantung.

    “Dengan bantuan pengobatan yang lebih baik dan kontrol masalah pernapasan, banyak pasien yang dapat bertahan hidup lama,” jelas Stanley Froehner, profesor fisiologi dan biofisika di University of Washington, Seattle, seperti dilansir ABCNews, Senin (25/10/2010).

    Menurut Froehner dalam studi yang dilakukan, pengobatan dengan Viagra mampu menormalkan fungsi jantung abnormal pada subjek tikus dengan DMD dalam beberapa hari. Obat tersebut juga dapat menunda timbulnya gejala masalah jantung.

    Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan peningkatan kinerja jantung dengan obat-obatan seperti Viagra, dengan mencegah kerusakan senyawa yang disebut cyclic guanosine monophosphate (cGMP).

    Saat ini percobaan klinis sedang berlangsung untuk menguji Viagra pada anak laki-laki dengan DMD. Tetapi Froehner mengatakan timnya berharap bisa menguji pengobatan ini pada anak laki-laki yang lebih muda, usia 8 sampai 12 tahun.

    “Bila profil keamanan Viagra telah disetujui oleh FDA (Badan pengawas obat dan makanan Amerika), maka obat ini dapat menjadi kandidat yang menarik dan berpotensi untuk pengobatan DMD,” jelas Christopher Rosa, anggota dewan untuk Muscular Dystrophy Association.

Leave a Reply